custompaperswriting.com – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendukung pemanfaatan kayu hanyutan setelah bencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Sumatera Utara sebagai inisiatif pemulihan lingkungan dan pembangunan hunian sementara bagi masyarakat terdampak. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, mengungkapkan bahwa kayu tersebut akan digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan pembangunan huntara.
Hingga 8 Januari 2026, tim dari Badan Pengelola Hutan Lindung (BPHL) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh telah berhasil mengidentifikasi 769 batang kayu hanyutan dengan total volume mencapai 1.260,49 meter kubik yang layak dimanfaatkan. Dalam proses ini, 87 personel Kemenhut dilengkapi 38 unit alat berat, termasuk ekskavator dan dozer, untuk mempermudah pemilahan kayu di lokasi bencana di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Subhan menambahkan, lembaga Rumah Zakat telah mulai menggunakan kayu tersebut untuk membangun sembilan unit hunian sementara, di mana delapan di antaranya masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai. Selain itu, upaya pembersihan fasilitas pendidikan juga dilakukan oleh tim Kemenhut di SDN 14 Langkahan.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menambahkan bahwa penanganan kayu hanyutan di beberapa desa di wilayah tersebut dilakukan secara bertahap. Pemilahan kayu di daerah Garoga telah mencapai 100 persen dan menghasilkan 228 keping kayu, dengan total akumulasi menjadi 793 keping untuk pembangunan huntara di Kecamatan Batang Toru.
Kegiatan ini juga mencakup penataan lingkungan dan pembukaan lahan untuk hunian tetap, di mana 1,028 hektare lahan telah dibuka dari rencana total 15 hektare. Dengan ini, Kemenhut berkomitmen untuk mempercepat pemulihan dan mendukung masyarakat yang terkena dampak bencana.