custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penguatan pada hari Kamis pagi, mencermati arah kebijakan suku bunga acuan global. IHSG dibuka menguat 14,72 poin atau 0,26 persen, mencapai posisi 5.709,84. Di sisi lain, Indeks LQ45 juga mencatat kenaikan sebesar 2,57 poin atau 0,46 persen, menuju angka 559,32.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, menyatakan bahwa IHSG memiliki potensi untuk menguat terbatas dengan support dan resistance di angka 5.320-5.735. Ia menambahkan bahwa untuk saat ini, potensi koreksi masih ada, sehingga investor perlu berhati-hati.
Dalam konteks global, Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengungkapkan bahwa risiko inflasi telah menurun dan target inflasi tetap di level 2 persen. Hal ini terjadi seiring dengan keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga, yang berimbas pada penurunan imbal hasil obligasi. Harga energi dan bensin juga mengalami penurunan, dipengaruhi oleh perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan mencapai 0,44 persen di bulan Juni 2026, sedangkan untuk neraca perdagangan Indonesia menunjukkan defisit pertama dalam enam tahun terakhir, sebesar 1,61 miliar dolar AS.
Nico menjelaskan bahwa penurunan permintaan global dan harga komoditas unggulan menyebabkan tekanan pada sektor eksternal Indonesia. Meskipun terdapat peningkatan impor yang dianggap mendukung aktivitas produksi, ia menekankan pentingnya perbaikan kondisi ekspor agar stabilitas ekonomi tetap terjaga. Penurunan surplus perdagangan dapat berdampak pada nilai tukar rupiah dan cadangan devisa ke depan.