custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan pada trading Jumat kemarin, di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat. IHSG dibuka dengan kerugian 11,07 poin atau 0,14 persen, berada di posisi 7.699,47. Indeks LQ45 juga mengikuti tren negatif, melemah 1,61 poin atau 0,20 persen ke level 786,21.
Konflik yang telah berlangsung selama enam hari ini mendorong kekhawatiran terkait inflasi energi serta arah kebijakan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menjelaskan bahwa rebound teknikal yang terjadi sebelumnya kemungkinan tidak bertahan lama, dan para investor disarankan untuk meningkatkan posisi cash untuk menghadapi volatilitas yang diperkirakan berlangsung hingga akhir pekan.
Dengan adanya pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret 2026 mendatang, pasar saat ini memprediksi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 40 basis poin, turun dari sekitar 50 basis poin sebelum konflik dimulai. Di sisi lain, konflik ini juga telah berdampak pada harga minyak, yang melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Harga minyak Brent meningkat 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel.
Secara makro, perlambatan ekonomi di China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, diprediksi dapat menekan perekonomian domestik, terutama dalam hal permintaan komoditas dan investasi. Mengingat China menyumbang sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia dan merupakan salah satu investor terbesar, dampak dari perlambatan ini dapat signifikan.
Di bursa global, bursa saham Eropa dan AS juga menunjukkan pelemahan yang serupa, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap situasi yang sedang berkembang.