custompaperswriting.com – Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang menggunakan kompor induksi mengungkapkan bahwa perangkat ini membawa efisiensi biaya operasional yang signifikan di tengah meningkatnya harga energi global. Salah satu pemilik usaha martabak di Jakarta, Andi Arif, menjelaskan bahwa investasi awal untuk kompor listrik lebih menguntungkan daripada penggunaan gas, terutama mengingat fluktuasi harga gas yang tidak menentu. Ia menambahkan, tagihan listrik bulanan hanya naik sekitar Rp30.000, suatu biaya tambahan yang sangat wajar dibandingkan dengan biaya pengisian tabung gas yang terus merangkak naik.
Siti Sarah, seorang pelaku UMKM katering, juga menyatakan manfaatnya. Menurutnya, kompor induksi menghemat biaya produksi dan meningkatkan keuntungan dari setiap pesanan. Efisiensi penggunaan energi membuat biaya masak lebih stabil, sehingga ia bisa menggunakan sisa uang untuk membeli bahan baku.
Ibu rumah tangga Hevy Prasmawati menilai keunggulan kompor listrik, seperti panas yang lebih stabil, berpengaruh terhadap hasil masakan. Ia menghargai fitur otomatis yang membuat memasak menjadi lebih praktis dan aman. Meski daya perangkat ini sekitar 1.300 watt, penggunaan alat masak yang tepat justru mempercepat proses pematangan, sehingga konsumsi daya tetap efisien.
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mendorong masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan gas, dan menyarankan kompor listrik sebagai alternatif efektif di tengah isu melonjaknya harga energi. Selain itu, Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, mengungkapkan bahwa transisi ke kompor listrik akan lebih ekonomis dibandingkan dengan beban subsidi LPG. Keputusan untuk beralih ke kompor listrik kini dianggap bukan hanya tren, tetapi langkah strategis untuk stabilitas ekonomi rumah tangga dan usaha kecil.