custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan signifikan pada Senin sore, mencatatkan pelemahan sebesar 2,66 persen hingga mencapai posisi 8.016,83. Pelemahan ini dipicu oleh aksi pasar yang mengikuti tren buruk di bursa saham Asia, di mana investor mulai beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah.
Saham-saham unggulan dalam indeks LQ45 juga tidak luput dari penurunan, dengan catatan penurunan sebesar 2,62 persen ke level 812,49. Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, situasi geopolitik yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah membuat investor global cenderung menghindari risiko. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional turut menambah kepanikan, berpotensi memicu inflasi yang bisa menyebabkan kenaikan suku bunga di seluruh dunia.
Meskipun demikian, beberapa saham di sektor energi dan tambang emas mengalami kenaikan, sehingga dapat menjadi penahan bagi penurunan IHSG lebih lanjut. Dalam laporan bersamaan, data inflasi di Indonesia juga menunjukkan kenaikan menjadi 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026. Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh meningkatnya kelompok pengeluaran untuk makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang utama inflasi jelang bulan Ramadan.
Inflasi tahunan juga mengalami akselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026. Ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2023, yang sebagian disebabkan oleh adanya diskon tarif listrik di tahun lalu.