custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan signifikan pada Kamis sore, melemah hingga 163 poin atau 2,16 persen, mencapai level 7.378,61. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk pelemahan kurs rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah, serta kenaikan harga minyak mentah di pasar global.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp17.286 per dolar AS di pasar spot, menjadikannya level penutupan terburuk. Tekanan ini, ditambah dengan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate yang tidak berubah untuk ketujuh kalinya, memberikan dampak terbatas terhadap stabilitas pasar.
Pelemahan rupiah yang tak terduga ini juga berimbas pada ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, di saat harga bahan bakar nonsubsidi baru-baru ini mengalami kenaikan. Gubernur BI, Perry Warjiyo, memperingatkan bahwa fluktuasi harga minyak dapat memperburuk defisit transaksi berjalan menjadi kisaran 0,5 hingga 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat naik 9,7 persen secara tahunan pada Maret 2026, yang dipicu oleh peningkatan dalam uang beredar M1 dan penyaluran kredit. Hal ini dinilai wajar seiring persiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Dalam perdagangan hari itu, sebanyak 3.079.440 transaksi tercatat, dengan 54,16 miliar lembar saham diperdagangkan. Dari 192 saham yang naik, 505 saham mengalami penurunan. Indeks saham regional Asia juga menunjukkan tren melemah, menunjukkan dampak global dari situasi pasar ini.