custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan pada Jumat pagi, seiring dengan melambatnya bursa saham di kawasan Asia. IHSG dibuka turun 31,38 poin atau 0,37 persen, mencapai posisi 8.388,54, sementara indeks LQ45 juga merosot 4,62 poin atau 0,54 persen menjadi 843,40.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas mengharapkan adanya pembalikan posisi pasar, yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen domestik dan global. Dari sisi internasional, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari prediksi membawa dampak pada kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan belum akan dilonggarkan dalam waktu dekat. Pada September 2025, NonFarm Payroll AS mencatat penambahan 119.000 pekerjaan, namun tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4 persen, menunjukkan adanya potensi pelemahan perekrutan.
Kondisi ini menciptakan sinyal campuran bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Pelaku pasar saat ini masih berupaya menemukan keseimbangan antara saham pertumbuhan dan bernilai, serta antara aset berisiko dan aman. Di Asia, Jepang mengalami ancaman stagflasi dengan inflasi yang meningkat dan hubungan dagang dengan China yang memburuk, berdampak pada posisi Bank of Japan.
Dalam konteks lokal, Indonesia menghadapi tekanan fiskal dengan neraca pembayaran kuartal III-2025 mengalami defisit sebesar 6,4 miliar dolar AS. Meskipun transaksi berjalan menunjukkan surplus $4,04 miliar berkat lonjakan ekspor nonmigas, defisit anggaran negara mencatatkan angka Rp479,7 triliun. Hal ini membuat pembahasan upah minimum provinsi 2026 tertunda dan rencana kenaikan gaji PNS menjadi tidak pasti, mengingat ruang fiskal semakin sempit.
Bursa saham Eropa mencatat penguatan, sementara bursa AS mengalami tekanan yang sama. Indeks Nikkei Jepang menunjukkan penurunan 2,20 persen, diikuti oleh indeks Shanghai dan Hang Seng yang juga melemah secara signifikan.