custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan pada Senin pagi, dengan kenaikan sebesar 17,50 poin atau 0,30 persen, sehingga mencapai level 5.893,28. Hal ini dipicu oleh optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan dovish dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Indeks LQ45, yang mengukur 45 saham unggulan, juga mengalami kenaikan sebesar 1,30 poin atau 0,22 persen menjadi 583,08.
Menurut Liza Camelia Suryanata, kepala riset Kiwoom Sekuritas, sentimen domestik masih tertekan oleh defisit neraca perdagangan yang terjadi untuk pertama kalinya sejak April 2020, serta kontraksi dalam aktivitas manufaktur. Lebih jauh, Fitch Ratings memberikan peringatan terkait penurunan cadangan devisa yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi.
Dari sisi global, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi meningkatkan peluang untuk pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini mendorong pelaku pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan beralih ke aset berisiko. Perekonomian, menurut Liza, akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi mendatang, termasuk ISM Services PMI, risalah FOMC The Fed, dan data inflasi dari China.
Di tengah ketegangan yang mereda di Timur Tengah, negosiasi damai antara AS dan Iran mengalami kemajuan, yang berkontribusi pada pemulihan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz serta ekspor minyak Arab Saudi. Dari dalam negeri, Direktorat Jenderal Pajak akan memperketat pengawasan terhadap perpajakan ekonomi digital untuk meningkatkan kepatuhan pajak.
Dengan pergerakan di bursa Eropa yang menguat dan bursa Wall Street yang libur, pasar saham regional Asia menunjukkan mixed sentiment. IHSG kedepannya akan sangat tergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global.