custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi menunjukkan penguatan dengan membuka perdagangan di level 7.162,41, meningkat sebanyak 191,38 poin atau sekitar 2,75 persen. Kenaikan ini seiring dengan tren positif pasar saham di kawasan Asia setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunda aksi militer terhadap Iran selama dua minggu.
Kenaikan tersebut juga tercermin melalui indeks LQ45 yang mencatat penguatan 22,61 poin atau 3,22 persen, mencapai posisi 724,27. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, menyatakan bahwa IHSG berpotensi menguat meski terbatas, dengan kisaran support dan resistance di level 6.920 hingga 7.240.
Sebelumnya, ketegangan internasional meningkat setelah Trump mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika tidak ada kesepakatan hingga pukul 20.00 waktu setempat. Namun, pernyataan terbaru mengindikasikan bahwa negosiasi antara kedua belah pihak terus berlangsung, dengan tenggat baru pada 21 April 2026 untuk menyelesaikan perundingan tersebut.
Menyusul penundaan serangan, harga minyak mengalami penurunan yang signifikan, dengan minyak WTI turun 14,63 persen dan harga Brent turun 12,86 persen. Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan rilis risalah FOMC Meeting Minutes pada Kamis (09/04) dan berbagai data inflasi dari AS yang akan berpengaruh terhadap keputusan Federal Reserve mengenai suku bunga.
Di dalam negeri, Kementerian Keuangan mengonfirmasi bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap solid meski terjadi lonjakan harga minyak. Pemerintah telah melakukan analisa untuk menunjang defisit sekitar 2,9 persen dari PDB, meskipun sensitivitas terhadap harga minyak tetap perlu diwaspadai. Dengan langkah efisiensi dan strategi mitigasi yang diterapkan, pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas fiskal ke depan.