custompaperswriting.com – PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun pada tahun 2025, mengalami penurunan sebesar dua persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp328,5 triliun. Penurunan ini juga tercermin pada laba bersih perusahaan yang mencapai Rp32,8 triliun, turun tiga persen dari Rp33,9 triliun pada 2024.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa penurunan laba disebabkan oleh harga batu bara yang lebih rendah serta kondisi pasar mobil baru yang melemah. Meskipun demikian, Djony menekankan bahwa kinerja bisnis Grup tetap tangguh, didukung oleh kontribusi positif dari sektor-sektor bisnis lainnya.
Melihat ke depan, Djony optimis bahwa sentimen konsumen akan membaik meskipun tantangan di beberapa lini bisnis masih ada. Perusahaan berkomitmen untuk fokus pada penguatan operasional dan disiplin dalam alokasi modal, memanfaatkan neraca yang kuat untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang dijadwalkan pada April 2026, perusahaan akan mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen yang diusulkan, yang mencakup dividen interim sebesar Rp98 per saham, menjadi Rp390 per saham dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48 persen.
Pada Januari 2026, ASII telah menyelesaikan program buyback saham senilai Rp2 triliun dan melanjutkan dengan tahap kedua yang selesai pada 25 Februari 2026, dengan total nilai Rp685 miliar. Djony menambahkan bahwa program buyback ini dilakukan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingat fluktuasi pasar yang signifikan. Pada tahun 2025, laba bersih per saham tercatat Rp810, sedikit menurun dari Rp837 pada tahun sebelumnya. Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp228,9 triliun pada 2025.