custompaperswriting.com – Di tengah kondisi hujan yang deras, sejumlah petani di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berani mengambil risiko dengan menanam bawang merah. Meskipun sebagian besar petani memilih menunda aktivitas penanaman, mereka optimis bahwa teknik dan analisis pasar dapat meningkatkan hasil panen.
Keputusan ini terlihat di lahan pertanian Desa Podorejo dan Junjung, Kecamatan Sumbergempol. Sejumlah buruh perempuan terlihat menanam bibit bawang merah pada bedengan berlapis mulsa plastik. Saat ini, meskipun banyak petani yang beralih ke tanaman padi dan palawija, beberapa lahan tetap ditanami bawang merah, memberikan harapan akan keberlangsungan produksi komoditas ini.
Data dari Dinas Pertanian Tulungagung mencatat, luas tanam bawang merah mencapai 228,70 hektare dengan total produksi 2.151 ton pada tahun 2025. Kecamatan Sumbergempol menjadi pusat produksi dengan luas tanam 80 hektare. Namun, bertani bawang merah saat hujan membawa risiko tinggi, seperti genangan dan serangan penyakit.
Salah satu cara yang diterapkan petani adalah penggunaan teknik bedengan dengan sistem drainase yang baik. Andi Daniar, seorang ahli agronomi, menjelaskan bahwa bedengan dibuat setinggi 30–40 sentimeter dan parit dalam dibangun untuk mengalirkan air hujan. Teknik ini diharapkan dapat melindungi akar bawang dari genangan dan meningkatkan kualitas umbi.
Harga bawang merah saat ini berkisar Rp25.000 per kilogram, yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hampir Rp3,6 miliar dalam satu siklus tanam dua bulan. Meskipun tantangan cuaca tetap ada, ketekunan petani dalam menerapkan teknologi pertanian dianggap kunci untuk menjaga stabilitas produksi dan harga bawang merah di pasar.