custompaperswriting.com – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta hari Selasa menunjukkan pergerakan positif dengan menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa penguatan ini dipicu oleh investor yang menerapkan strategi “wait and see” menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Lukman menambahkan bahwa meskipun terdapat tekanan pada dolar AS, penguatan rupiah mungkin akan terbatas, terutama menjelang hasil keputusan FOMC yang dijadwalkan pada Rabu, 28 Januari. Berdasarkan laporan terbaru, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen dalam pertemuan awal tahun ini.
Penting untuk dicatat bahwa FOMC sebelumnya telah memangkas suku bunga total 75 basis poin pada bulan September hingga Desember 2025, di tengah meningkatnya ketegangan politik dan isu hukum terkait dengan kebijakan bank sentral. Presiden AS, Donald Trump, diketahui telah mendesak The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga, sementara penyelidikan dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, juga menjadi sorotan.
Investor kini menanti pernyataan dari Kepala The Fed, yang diharapkan akan bersikap lebih “dovish” melihat kondisi geopolitik saat ini. Jika hal ini terjadi, dolar AS diproyeksikan akan terus melemah, yang dapat berimbas positif bagi nilai rupiah.
Selain itu, terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Senin (26/1) menjadi perhatian. Thomas, yang merupakan keponakan dari Presiden Prabowo Subianto, dikhawatirkan dapat mempengaruhi independensi BI. Dia secara resmi terpilih dalam rapat Komisi XI DPR RI dan keputusan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna untuk persetujuan lebih lanjut.