custompaperswriting.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membawa dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia, terutama terkait dengan harga bahan baku impor dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Hal tersebut disampaikan oleh Profesor Hamid Paddu, pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Hasanuddin, Makassar, dalam pernyataannya di Jakarta.
Pada pertengahan Mei 2026, rupiah mengalami penurunan drastis, menembus level Rp17.500 per dolar AS, dan pada 14 Mei 2026, ditutup pada nilai Rp17.529. Menurut Profesor Hamid, produksi BBM dalam negeri yang hanya mencapai 650 ribu barel per hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Akibatnya, lebih dari separuh kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui impor dengan menggunakan dolar AS.
Pelemahan ini, lanjutnya, turut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang saat ini mencapai 105 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang menetapkan harga 70 dolar AS per barel. Hal ini menjadikan beban energi semakin berat ketika mengimpor BBM, karena munculnya dua faktor penentu: kenaikan harga minyak dunia dan penurunan nilai tukar.
Sebagai konsekuensinya, badan usaha termasuk Pertamina diprediksi akan menaikkan harga BBM nonsubsidi. Profesor Hamid menekankan bahwa dalam mekanisme pasar, kenaikan harga bahan baku akan otomatis berdampak pada kenaikan harga BBM. Ia menyoroti bahwa masyarakat kini lebih literat terhadap isu energi dan memahami pergeseran harga yang terjadi.
Jika Pertamina tidak menyesuaikan harga, dampaknya akan serius bagi kondisi finansial perusahaan BUMN tersebut. Sebagai langkah strategis, penting bagi semua pihak untuk memperhatikan dinamika ini dalam konteks perekonomian nasional yang lebih luas.