custompaperswriting.com – Ratusan masyarakat Malaysia menghadiri tradisi Nyobeng yang diselenggarakan oleh masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Kegiatan ini berlangsung pada Senin dan menjadi daya tarik wisata budaya di perbatasan Kalimantan Barat.
Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, menyatakan bahwa tradisi Nyobeng telah berkembang menjadi magnet wisata yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga aset budaya yang penting untuk pengembangan ekonomi lokal. Ia menargetkan kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kalimantan Barat.
Tradisi Nyobeng dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Dayak Bidayuh dan juga berfungsi sebagai momen untuk mempererat hubungan antar masyarakat Dayak di Indonesia dan Malaysia. Dalam rangka meningkatkan daya tarik kawasan ini, pemerintah daerah berencana menata kawasan secara bertahap, termasuk pengembangan Rumah Adat Baluk sebagai pusat budaya.
Ketua Panitia Nyobeng 2026, Gunawan, menjelaskan tema tahun ini adalah “Nyobeng sebagai Warisan Leluhur, Berakar dalam Tradisi dan Tumbuh dalam Kebersamaan.” Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang diwariskan meliputi gotong royong, persaudaraan, dan pelestarian budaya.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 420 tamu, termasuk rombongan dari Kuala Lumpur dan Sarawak. Kehadiran mereka menunjukkan daya tarik budaya Dayak Bidayuh yang mampu melintasi batas negara. Selain ritual adat, pengunjung juga menikmati berbagai atraksi budaya, seperti pertunjukan tradisional dan panjat tiang yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Bupati Darwis berharap area ini dapat menjadi tujuan wisata budaya unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.