custompaperswriting.com – Pelaku pasar mengalihkan dananya ke instrumen emas dan obligasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Menurut pengamat pasar modal Reydi Octa, pengalihan ini menyebabkan tekanan pada pasar saham Indonesia, dengan investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp1,90 triliun pada perdagangan Rabu.
Reydi menjelaskan bahwa ketika risiko meningkat, investor cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi. Hal ini juga memicu praktik profit taking atau cut loss, yang membuat indeks pasar turut tertekan. Ketegangan geopolitik, seperti insiden terkait Greenland, memicu volatilitas di pasar saham global, termasuk di emerging market seperti Indonesia.
Investor global berupaya mengurangi paparan risiko dengan menjual saham-saham yang dianggap berisiko tinggi. Reydi menambahkan bahwa sektor-sektor yang paling terpengaruh dari aksi jual ini adalah perbankan, properti, dan konsumsi, yang sensitif terhadap siklus ekonomi.
Disisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengungkapkan rencananya untuk mengakuisisi Greenland dan mengancam akan menerapkan tarif tinggi kepada sejumlah negara anggot NATO. Di saat yang sama, Uni Eropa menunjukkan dukungannya kepada Greenland dan Denmark untuk mempertahankan wilayah mereka.
Data perdagangan pada Rabu menunjukkan IHSG ditutup melemah 124,37 poin atau 1,36 persen di posisi 9.010,33. Sebanyak 4.032.229 transaksi tercatat dengan total volume perdagangan mencapai Rp34,22 triliun, yang melibatkan 170 saham yang meningkat, 546 saham menurun, dan 77 saham yang tidak bergerak.