custompaperswriting.com – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menyatakan bahwa arah pergerakan pasar saham Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global serta valuasi saham yang semakin menarik. Hal ini disampaikan oleh Head of Research dan Chief Economist MASI, Rully Arya Wisnubroto, dalam acara Mirae Asset Media Day yang berlangsung di Jakarta pada hari Selasa.
Rully menjelaskan bahwa pemulihan minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar memberikan sinyal positif bagi pasar. Ia menekankan pentingnya kualitas fundamental ekonomi dan kebijakan moneter global dalam memengaruhi perhatian investor saat ini. Dengan adanya tantangan makroekonomi yang masih berlangsung, investor kini tidak hanya berfokus pada momentum rebound, tetapi juga kemampuan emiten untuk mempertahankan kinerja.
Proyeksi MASI menunjukkan bahwa kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed berpotensi berlanjut, yang dapat menyebabkan ketidakpastian di pasar. Rully menambahkan bahwa likuiditas dolar AS yang semakin ketat membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin kuat, serta membatasi ruang bagi Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga.
Research Analyst MASI, Wilbert Arifin, menambahkan bahwa keputusan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market merupakan langkah positif yang mengurangi ketidakpuasan pasar. Meskipun indeks bobot Indonesia dalam MSCI menurun, status tersebut setidaknya mengurangi risiko keluar dana yang bisa mencapai Rp80 triliun.
Dengan tetap terjaganya status sebagai Emerging Market, upaya menarik kembali aliran dana asing tetap menjadi tantangan. Masa depan pasar saham Indonesia di semester II 2026 sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi dan kemampuan emiten dalam mendorong pertumbuhan laba.