custompaperswriting.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana pemerintah untuk mempercepat penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. Dalam wawancara di Jakarta, Kamis, ia menekankan bahwa penggunaan CNG sangat penting untuk menekan pengeluaran devisa dan subsidi yang tinggi.
Menurut Bahlil, rata-rata konsumsi LPG di Indonesia mencapai lebih dari 8,5 juta metrik ton (MT) per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya mampu mencapai 1,91 juta MT. Hal ini memaksa Indonesia untuk mengimpor sekitar 7,47 juta MT untuk memenuhi kebutuhan nasional, yang berarti sekitar 75-80 persen dari total kebutuhan masih bergantung pada impor.
Bahlil juga mencatat bahwa konversi dari minyak tanah ke LPG yang dimulai pada 2006 belum sepenuhnya optimal, dan industri LPG domestik masih perlu berkembang agar bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus bergantung pada pasokan luar. Dia menekankan pentingnya bauran energi guna mencapai kemandirian energi nasional.
Saat ini, pemerintah telah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan CNG untuk gas tabung 3 kilogram, setelah sebelumnya berhasil dalam sektor komersial menggunakan tabung 12 dan 50 kilogram. Penggunaan CNG telah diterapkan di berbagai sektor, seperti industri hotel dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di mana dapur sudah menggunakan CNG.
Bahlil berharap, dengan memanfaatkan potensi sumber daya domestik, pemerintah dapat memperkecil ketergantungan pada impor dan mewujudkan kedaulatan energi. “Ke depan, saya berharap agar impor ini dapat diminimalkan, dan kita lebih berfokus pada produksi dalam negeri,” ujarnya.