custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan signifikan pada hari Kamis, dengan koreksi mencapai 143,43 poin atau 2,03 persen, sehingga ditutup pada level 6.956,80. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi sentimen global ‘risk off’, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko, dan tekanan dari isu-isu domestik.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dan ketidakpastian terhadap kebijakan suku bunga global memicu arus keluar modal dari pasar saham Indonesia. Sementara dari sisi domestik, faktor-faktor seperti isu free float, HSC, dan rebalancing indeks memperburuk kondisi pasar. Reydi menambahkan bahwa investor asing saat ini bersikap defensif, melakukan aksi jual bersih (net sell), dan lebih memilih pasar yang lebih likuid dan stabil.
Investor kini menunggu kejelasan mengenai kebijakan suku bunga acuan global, stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta kepastian regulasi untuk meningkatkan rasa percaya dalam pengambilan keputusan investasi di masa depan. Dalam jangka pendek, Reydi memprediksi IHSG masih akan bergerak sideways dengan kemungkinan melemah lebih lanjut, meskipun terdapat peluang untuk rebound teknis.
Selama sesi perdagangan, seluruh sebelas sektor mengalami penurunan, dengan sektor infrastruktur mencatatkan kerugian tertinggi sebesar 2,54 persen. Dalam hal aktivitas perdagangan, tercatat frekuensi transaksi mencapai 2.663.979 kali dengan total nilai transaksi sebesar Rp21,87 triliun. Di bursa saham regional, indeks seperti Nikkei dan Hang Seng juga menunjukkan pelemahan, sementara indeks Shanghai mencatat penguatan. Hal ini menggambarkan ketidakpastian yang melanda pasar finansial global.