custompaperswriting.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat siap menghadapi gejolak pasar saham yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa ketidakpastian yang tinggi kini tidak hanya berpengaruh pada pasar domestik, tetapi juga mengganggu pasar saham global.
Dalam pernyataannya di Jakarta, setelah acara “Empowering Sharia Investment Journey with IDX Mobile Sharia,” Jeffrey menjelaskan bahwa volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini mirip dengan gejolak yang terjadi di pasar pada April 2025. Saat itu, kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump berkontribusi terhadap penurunan pasar yang tajam, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Jeffrey memastikan bahwa meskipun kondisi saat ini cukup menekan, sistem infrastruktur dan peraturan di BEI telah disiapkan untuk mengatasi ancaman yang dapat timbul akibat ketidakpastian ekonomi dan politik. Menurutnya, kondisi pasar saat ini tidak seburuk yang dihadapi pada tahun lalu, sehingga BEI yakin mampu meminimalisasi dampak gejolak ini.
Pada perdagangan Senin, IHSG ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen, berakhir di posisi 7.337,37. Dalam sesi tersebut, IHSG bahkan mengalami penurunan hingga 421,82 poin pada awal perdagangan. Di bursa regional, indeks-indeks utama di Asia juga mengalami penurunan, seperti Indeks Nikkei yang anjlok 5,20 persen.
Dengan situasi yang dinamis, BEI berkomitmen untuk terus mengawasi perkembangan yang ada dan menjaga stabilitas pasar bagi investor.