Potensi Sektor Energi Meningkat di Tengah Tekanan Harga Minyak

[original_title]

custompaperswriting.com – Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. Menurutnya, investor global mungkin akan lebih selektif terhadap aset berisiko, akibat dari situasi ini. Ia menjelaskan bahwa meskipun dampak tersebut tidak merata, emiten yang berfokus pada komoditas energi berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga minyak.

Elandry mencatat bahwa harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada saat ini mencapai 98,53 dolar AS per barel, sementara Brent di 105,60 dolar AS per barel. Situasi ini menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena harga pasar jauh lebih tinggi dibanding asumsi dalam anggaran. Investor asing, dalam hal ini, cenderung lebih berhati-hati terhadap alokasi portofolio mereka di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, Elandry menegaskan bahwa investor domestik lebih memperhatikan kondisi fundamental. Selama stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal terjaga, minat mereka relatif tetap kuat. Ia juga menyampaikan harapan agar pemerintah dapat menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global, melalui disiplin dalam pengelolaan defisit dan pengaturan subsidi energi yang adaptif.

Sebagai informasi tambahan, pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah sebesar 142,58 poin atau 2,00 persen, mencapai posisi 6.994,63. Kondisi ini mencerminkan dampak dari berbagai faktor yang mempengaruhi pasar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *