custompaperswriting.com – Penguatan infrastruktur air, terutama jaringan irigasi, menjadi faktor kunci dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman fenomena iklim El Nino. Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menegaskan pentingnya langkah-langkah yang diambil pemerintah, seperti pompanisasi, embung, sumur dalam, dan optimalisasi lahan.
Eliza menyatakan bahwa meskipun intervensi ini efektif untuk mengatasi kemarau moderat, mereka mungkin tidak cukup untuk mengatasi skenario El Nino yang lebih kuat. Ia menjelaskan, kekeringan dapat menyebabkan defisit air pada fase kritis pertumbuhan tanaman, sehingga ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan produksi.
Lebih lanjut, Eliza menyoroti pentingnya perbaikan irigasi di semua tingkat, termasuk hulu, karena pendangkalan yang disebabkan oleh akumulasi sedimen menjadi tantangan signifikan. Sekitar 60% dari jaringan irigasi saat ini berada dalam kondisi rusak, yang memerlukan biaya dan koordinasi lintas sektor untuk revitalisasinya.
Meskipun rehabilitasi jaringan tersier dilakukan, dampaknya terbatas jika masalah di hulu tidak ditangani. Namun, pompanisasi dan embung tetap berfungsi sebagai sumber air tambahan di daerah rawan kekeringan, meskipun menghadapi biaya operasional yang tinggi.
Di kawasan rawan kekeringan seperti Nusa Tenggara Barat dan Timur, inisiatif ini memberikan dukungan, tetapi tidak bisa menggantikan irigasi permanen. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pemerintah telah membangun berbagai infrastruktur untuk mengantisipasi dampak El Nino, termasuk pembangunan ribuan unit irigasi dan konservasi air.
Saat ini, cadangan beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton, dengan potensi produksi padi yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama 10 hingga 11 bulan ke depan.