custompaperswriting.com – Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi pergerakan di kisaran 7.000 hingga 8.000 pada semester kedua tahun 2026. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat pasar modal Elandry Pratama dalam sebuah wawancara di Jakarta. Elandry menjelaskan, asumsi ini berlandaskan pada kondisi global yang stabil dan arus dana asing yang terjaga.
Elandry mengemukakan bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki peluang untuk tumbuh positif, meski volatilitas tetap tinggi. Beberapa faktor yang mendukung sentimen pasar termasuk potensi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi domestik, dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang baik. Meskipun demikian, ia memperingatkan bahwa pergerakan IHSG tidak akan bersifat linier. Investor cenderung memantau perkembangan kebijakan perdagangan global dan kebijakan bank sentral utama.
Dari sisi global, perhatian investor akan terfokus pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, inflasi di Amerika Serikat, dan kebijakan tarif perdagangan, serta situasi ekonomi di China. Tensi geopolitik juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Sementara di dalam negeri, sentimen utama berasal dari pertumbuhan ekonomi, realisasi belanja pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, data inflasi, dan kinerja laba emiten. Elandry menekankan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah yang dapat memperkuat iklim investasi dan meningkatkan kepercayaan investor.
Untuk nilai tukar rupiah, Elandry memproyeksikan akan berada di antara Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan fundamental domestik yang stabil meskipun sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Hingga penutupan perdagangan pada hari Senin, IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar 31,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.