custompaperswriting.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) percaya bahwa peningkatan batas minimal free float menjadi 15 persen akan meningkatkan likuiditas pasar dan transparansi. Langkah ini juga bertujuan untuk mengecilkan kemungkinan praktik manipulasi harga saham. Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa semakin tinggi porsi saham yang beredar di publik, semakin sulit untuk memanipulasi harga secara tidak wajar.
Jeffrey mengemukakan bahwa jika free float meningkat, perilaku manipulatif di pasar akan lebih sulit dilakukan karena membutuhkan dana dan volume transaksi yang jauh lebih besar. Selain itu, pengawasan dan penindakan terhadap laporan yang tidak akurat juga akan diperkuat, dengan sanksi bagi pihak yang memberikan informasi palsu.
Bursa terus memantau pergerakan saham melalui perangkat yang ada dan memberi peringatan pada investor jika terdapat aktivitas pasar yang tidak wajar. Apabila volatilitas harga terus berlanjut, BEI dapat mengambil langkah suspensi perdagangan untuk melindungi investor.
Saat ini, dari 956 perusahaan yang terdaftar, ada 268 emiten yang masih memiliki free float di bawah 15 persen, dengan fokus pada 49 perusahaan yang mewakili sekitar 90 persen kapitalisasi pasar dalam kelompok tersebut. Jeffrey menekankan perlunya diskusi dengan emiten agar penyesuaian dilakukan secara bertahap untuk menjaga kestabilan pasar.
Di masa mendatang, BEI akan lebih menekankan pada kualitas dalam pengajuan initial public offering (IPO), dengan menaikkan persyaratan bagi perusahaan yang ingin tercatat. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan lebih banyak perusahaan besar akan berpartisipasi di pasar modal, memberikan kesempatan bagi publik untuk menikmati pertumbuhan ekonomi melalui kepemilikan saham.