custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore mengalami penutupan yang melemah. Hal ini dipicu oleh aksi profit taking pelaku pasar setelah pencapaian positif IHSG beberapa waktu terakhir. IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 5,54 poin atau 0,09 persen, berada di posisi 6.334,48. Sementara itu, indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 4,09 poin atau 0,64 persen, mencapai 632,55.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, pelemahan ini merupakan respons pasar terhadap pengambilan untung setelah tren penguatan yang signifikan. Selain itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi dalam kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga tahun 2027.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp196,5 triliun pada semester pertama tahun 2026, yang setara dengan 0,76 persen dari PDB. Ini masih di bawah ketentuan batas defisit 3 persen dari PDB.
Bursa saham global menunjukkan pergerakan positif, terutama pada saham-saham semikonduktor yang rebound setelah sebelumnya mengalami penurunan. IHSG bergerak negatif sejak sesi pertama perdagangan dan tetap berada di zona merah hingga penutupan.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,7 juta transaksi, dengan total nilai perdagangan mencapai Rp18,52 triliun. Terdapat 281 saham yang mengalami penguatan, sementara 367 saham mengalami penurunan. Di antara sektor yang menguat, sektor teknologi menjadi yang teratas dengan kenaikan 1,42 persen, sedangkan sektor transportasi dan logistik mengalami penurunan terbesar, yakni 2,07 persen.