custompaperswriting.com – Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas 7 gigawatt (GW) secara bertahap hingga tahun 2034. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, dalam forum Indonesia Economic Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta.
Pada tahap awal, proyek ini akan dimulai dengan kapasitas 500 megawatt. Hashim menjelaskan bahwa pengembangan PLTN merupakan bagian dari transisi energi nasional yang lebih luas, sejalan dengan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL). Dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, pemerintah berencana untuk menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 70 GW, dengan sekitar 76 persen dari proyek tersebut berasal dari energi terbarukan.
Keputusan untuk membangun PLTN juga bertujuan menarik minat investor dan penyedia teknologi global. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat kebijakan energi yang berfokus pada energi hijau. Hashim menekankan bahwa gas alam akan tetap berperan sebagai sumber bahan bakar transisi untuk memastikan keandalan sistem kelistrikan selama masa peralihan menuju energi terbarukan.
Kebijakan ini mencerminkan usaha pemerintah untuk mengimbangi kebutuhan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan pengurangan emisi karbon secara berkelanjutan. Di samping itu, proyek PLTN diharapkan dapat membuka peluang investasi baru, baik dari segi pembiayaan maupun penyediaan teknologi, seiring dengan peningkatan kebutuhan listrik nasional di masa depan.