Site icon bloomsburyleisuregroup.com

Inovasi Berkembang Pesat di Teluk Ekas

[original_title]

custompaperswriting.com – Di Teluk Ekas, Lombok Timur, industri rumput laut sedang memasuki fase baru yang menjanjikan. Keberadaan International Tropical Seaweed Research Center yang dibangun pemerintah di kawasan ini diharapkan dapat mengubah ekonomi pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) dan mempengaruhi industri rumput laut global.

Dengan Indonesia menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia, nilai ekonomi sektor ini mencapai 12 miliar dolar AS per tahun. Namun, Indonesia masih terjebak dalam posisi sebagai pemasok bahan mentah. Pusat riset ini menjadi simbol ambisi untuk bertransformasi dari produsen menjadi inovator.

Produksi rumput laut di NTB tercatat mencapai lebih dari 693 ribu ton pada 2023, dengan nilai sekitar Rp1,65 triliun. Meski berada di posisi lima besar penghasil rumput laut nasional, tantangan tetap ada. Keterbatasan bibit unggul menjadi masalah krusial, dan Dinas Kelautan dan Perikanan NTB mencatat suplai bibit kultur jaringan yang masih terbatas.

Perubahan iklim juga berdampak negatif, menurunkan produksi secara nasional antara 10 hingga 20 persen. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional berupaya mengembangkan bibit tahan panas, namun penelitian tersebut masih berada dalam tahap laboratorium. Petani membutuhkan solusi yang cepat dan praktis di lapangan.

Masalah lain yang mencolok adalah alih fungsi lahan pesisir yang menyebabkan erosi dan penurunan kualitas air laut. Tanpa tata ruang pesisir yang terencana dengan baik, produktivitas rumput laut yang sangat sensitif terhadap lingkungan dapat terancam. Paradoks ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia kuat di hulu, terdapat kelemahan di hilir yang harus segera diatasi agar potensi ekonomi dapat terwujud secara merata.

Exit mobile version