custompaperswriting.com – Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI) dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkuat kolaborasi dalam bidang kehutanan, perubahan iklim, dan pengembangan pasar karbon. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan apresiasi atas kemitraan yang telah terjalin, termasuk nota kesepahaman yang ditandatangani pada tahun 2024.
Dalam pertemuan bilateral di Markas Besar PBB di New York, AS, awal pekan ini, kedua pihak membahas berbagai aspek, termasuk penguatan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dan skema pembiayaan inovatif untuk taman nasional. Raja Juli Antoni menekankan pentingnya aksi iklim sebagai prioritas utama Indonesia, terutama dalam mencapai target FOLU Net Sink 2030.
Indonesia bertujuan untuk menjadi pusat karbon global dengan membangun pasar karbon yang berintegritas tinggi. Langkah operasionalisasi pasar karbon telah dilakukan melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026, yang memberikan kerangka untuk perdagangan karbon di sektor kehutanan. Regulasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi investor dan mitra bisnis.
Menteri juga menyampaikan tentang pembentukan Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional yang akan mengembangkan solusi praktis untuk kawasan konservasi. Ia menyambut baik inisiatif UNEP dalam mendukung implementasi REDD+, yang dirasa krusial bagi pengelolaan karbon.
Raja Juli Antoni berharap semakin banyak profesional Indonesia yang dapat berkontribusi di UNEP, memperkuat suara negara-negara hutan tropis dalam isu lingkungan global. Melalui program-program seperti UN-REDD dan Green for Riau, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pendekatan REDD+ di berbagai daerah.