Site icon bloomsburyleisuregroup.com

Indofarma Yakin Ada Laba Meski Tertekan Kenaikan Dolar AS

[original_title]

custompaperswriting.com – PT Indofarma Tbk (INAF), perusahaan BUMN Farmasi, menunjukkan optimisme untuk mencatatkan laba bersih pada tahun 2026 meski menghadapi tantangan dari penguatan nilai dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Hal ini disebabkan oleh sekitar 70 persen bahan baku yang diimpor dan dibayar dalam dolar AS.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menyatakan bahwa target laba tetap optimis meski ada pelemahan kurs rupiah yang berpotensi menaikkan biaya produksi. Dalam Public Expose di Jakarta, Sahat menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan para pemangku kepentingan luar negeri, terutama dengan vendor pemasok bahan baku. Selain itu, perusahaan akan melakukan negosiasi untuk memastikan bahwa kenaikan harga tetap dalam batas toleransi yang telah direncanakan.

Sahat juga menjelaskan bahwa saat ini, sumber bahan baku yang belum sepenuhnya tersedia di dalam negeri menambah tantangan, namun hubungan baik dengan pemasok diharapkan dapat mendukung keberlangsungan operasional perusahaan. Untuk meningkatkan kinerja pada tahun 2026, Indofarma akan memaksimalkan ekspor yang pada tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan 11,9 persen tahun ke tahun.

Indofarma baru-baru ini mengekspor lima kontainer produk farmasi ke Afghanistan dan berharap untuk mendapatkan pesanan kembali atau memperluas pasar ke negara-negara sekitar. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), perusahaan melaporkan penjualan bersih sebesar Rp151,5 miliar pada tahun buku 2025, meskipun masih mencatatkan kerugian yang mengalami penurunan signifikan sebesar 76,7 persen dari sebelumnya.

Dengan strategi yang jelas dan hubungan kuat dengan pemasok, Indofarma berupaya untuk tetap bertahan dan berkembang dalam iklim ekonomi yang menantang.

Exit mobile version