custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup melemah, mengalami penurunan sebesar 52,36 poin atau 0,68 persen, yang membawa indeks ke posisi 7.623,59. Penurunan ini terjadi setelah adanya aksi ambil untung dari para pelaku pasar setelah beberapa hari mengalami kenaikan berturut-turut.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh profit taking, terutama setelah indeks menunjukkan tren kenaikan dalam seminggu terakhir. Secara bersamaan, isu dari luar negeri turut menambah ketidakpastian di pasar. Blokade oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Selat Hormuz memberikan tekanan tambahan, terutama bagi China dan India yang sangat bergantung pada ekspor minyak Iran.
Ratna menjelaskan, sekitar 98 persen ekspor minyak Iran dialokasikan untuk China, sementara ketegangan menghadapi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menambah risiko terhadap hubungan bilateral mereka. Di sisi lain, hubungan AS dengan India semakin rumit, terutama karena kebijakan energi AS yang berdampak negatif pada ekonomi India.
S&P Global Ratings juga menyoroti bahwa peringkat utang Indonesia rentan terhadap konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan, dengan proyeksi bahwa peningkatan biaya energi akan berimbas pada subsidi negara dan memperburuk defisit transaksi berjalan.
IHSG dibuka dalam posisi positif sebelum memasuki sesi kedua pada zona merah. Dalam sektor saham, lima sektor mengalami kenaikan, dipimpin oleh sektor transportasi dan logistik. Namun, enam sektor lainnya juga mengalami penurunan, termasuk infrastruktur. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 3.164.258 transaksi dengan volume perdagangan mencapai Rp22,59 triliun.