custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menyusut 27,28 poin atau 0,37 persen, dengan posisi akhir di angka 7.362,12. Penurunan ini sejalan dengan menguatnya sentimen negatif dari bursa saham kawasan Asia, dipicu oleh volatilitas harga minyak mentah di pasar global.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, penyebab utama penurunan ini terkait dengan konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, yang menyebabkan harga minyak mentah meningkat. Dari pantauan terbaru, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,48 persen menjadi 92,03 dolar AS per barel, sedangkan jenis Brent mengalami kenaikan 5,69 persen mencapai 97,21 dolar AS per barel pada sore hari.
Kenaikan harga minyak ini memunculkan kekhawatiran terkait inflasi, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta potensi kekurangan pada neraca perdagangan minyak dan gas. Laporan serangan terhadap beberapa kapal tanker di wilayah Timur Tengah juga turut berkontribusi terhadap lonjakan harga minyak mentah. Belum ada tanda-tanda menurunnya ketegangan di Teluk Persia, sehingga harga minyak tetap tinggi karena aliran minyak di Selat Hormuz masih terganggu.
International Energy Agency (IEA) baru saja mengumumkan pelepasan cadangan minyak dalam skala besar, yang menunjukkan tingginya risiko gangguan pasokan minyak di pasar. Keputusan ini menandakan bahwa gangguan akibat konflik di wilayah tersebut mungkin belum akan segera berakhir, sehingga investor di pasar saham domestik tetap harus waspada terhadap kondisi ekonomi yang berfluktuasi.