custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore mengalami penurunan yang signifikan, ditutup pada level 5.941,07, menyusut 254,36 poin atau sekitar 4,11 persen. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan di Indonesia.
Seorang analis dari Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengemukakan bahwa pasar kini tidak lagi meragukan pertumbuhan Indonesia, melainkan mencemaskan kredibilitasnya. Beberapa faktor yang memengaruhi sentimen negatif ini antara lain adanya outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch Rating, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati 18.000 per dolar AS, serta penurunan kelas menengah yang berkontribusi pada konsumsi domestik.
Selain itu, aliran dana asing yang terus keluar dari pasar juga menambah kecemasan. Liza menuturkan bahwa Indonesia mungkin sedang menghadapi fase penilaian struktural yang berbeda dibanding pasar negara berkembang lainnya. Sejak awal 2025, Indonesia ETF (EIDO) mencatatkan return negatif hingga 28,6 persen, berbeda jauh dengan kinerja pasar negara lain yang mengalami kenaikan.
Menjelang dua pekan penting bagi pasar, termasuk tinjauan aksesibilitas pasar global dari MSCI dan FTSE Russell, kekhawatiran terhadap kemampuan Indonesia untuk mempertahankan status investasi juga meningkat. Meskipun berita buruk sudah banyak muncul, Liza menekankan bahwa Indonesia masih mempertahankan status investment grade, dan beberapa risiko dinilai belum menjadi kenyataan.
Di sisi lain, perdagangan IHSG mencatatkan frekuensi sebesar 2.767.373 transaksi dengan 40,17 miliar lembar saham yang diperdagangkan, di mana sebanyak 692 saham mengalami penurunan, sementara hanya 69 saham yang menguat. Pelemahan ini terlihat lebih parah dibandingkan bursa global yang mencetak rekor tertinggi.