Site icon bloomsburyleisuregroup.com

Harga Nikel Diproyeksi Stabil di Angka 19 Ribu Dolar AS per Ton

[original_title]

custompaperswriting.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga nikel akan stabil di kisaran 19 ribu hingga 20 ribu dolar AS per ton pada tahun 2026. Proyeksi ini muncul setelah langkah pemangkasan produksi nikel di dalam negeri. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan harapan ini saat ditemui setelah Rapat Kerja (Raker) Komisi XII DPR di Jakarta.

Produksi nikel dipangkas menjadi sekitar 250 juta hingga 260 juta ton pada 2026, menurun dari target produksi 379 juta ton yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2025. Terkait perusahaan yang RKAB-nya belum disetujui, Tri mengingatkan bahwa mereka masih memiliki izin berproduksi hingga Maret 2026 dengan kuota sebesar 25 persen.

Langkah pemangkasan ini diambil untuk menjaga kestabilan harga komoditas nikel di tingkat global. Data dari London Metal Exchange (LME) menunjukkan bahwa harga nikel telah meningkat dari 14.125 dolar AS per ton pada 16 Desember 2025, menjadi lebih dari 17 ribu dolar AS per ton pada 22 Januari 2026, dan sempat menyentuh 18.450 dolar AS per ton pada 7 Januari 2026.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga meminta industri besar untuk membeli bijih nikel dari pengusaha tambang. Selain pemangkasan nikel, Kementerian ESDM turut memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026, turun hampir 200 juta ton dari tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, Kementerian ESDM menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara mencapai Rp134 triliun pada 2026, lebih tinggi dibandingkan target 2025 yang sebesar Rp124,7 triliun.

Exit mobile version