custompaperswriting.com – Ekonom mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan penataan ulang hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat. Langkah ini dianggap penting untuk memperkuat kemandirian strategi nasional di tengah dinamika sistem multipolar global. Pernyataan ini disampaikan oleh Farouk Abdullah Alwyni, Ekonom Senior dari Universitas Binawan, dalam keterangan resmi di Jakarta.
Farouk menegaskan bahwa saat ini terjadi perubahan signifikan dalam lanskap geoekonomi, di mana banyak negara berusaha mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat. Dalam konteks ini, Presiden RI Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan diplomatik ke beberapa negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Prancis, untuk mendiversifikasi mitra strategis.
Kemandirian strategis ini juga didorong oleh pernyataan Pemimpin Dunia, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, yang menawarkan pendekatan “the world minus one”. Di Asia Tenggara, Malaysia juga menunjukkan langkah serupa dengan membatalkan sejumlah kesepakatan tarif dengan AS.
Farouk mengatakan, perubahan ini menunjukkan adanya kecenderungan negara-negara Eropa dan Kanada untuk mengambil jarak dari AS dan memperluas kebijakan luar negeri secara independen. Selain itu, hubungan kerja sama baru antara kekuatan non-Barat, seperti China, Rusia, dan Iran, semakin terjalin di berbagai sektor.
Menanggapi perkembangan tersebut, Farouk mengingatkan pentingnya pemerintah Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan perdagangan dengan AS, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada kebijakan yang fluktuatif. Diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo di Moskow terkait kerja sama energi menjadi langkah strategis yang sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Farouk menekankan bahwa evaluasi kesepakatan tarif tidak dimaksudkan sebagai konfrontasi, melainkan sebagai langkah menjaga kedaulatan nasional dan kepentingan jangka panjang Indonesia.