custompaperswriting.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi masyarakat, dengan syarat adanya pengelolaan yang efektif. Hal ini disampaikan oleh Ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, dalam sebuah konferensi di Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa saat ini progres pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mencapai 90 persen dari target 30 ribu unit, dengan 27 ribu dapur telah siap beroperasi.
Riandy menjelaskan bahwa program ini berfungsi sebagai akselerasi fiskal yang dapat memberikan dampak langsung bagi pelaku ekonomi, khususnya di sektor pertanian dan perdagangan. Namun, untuk memastikan MBG berjalan seiring dengan stabilitas keuangan nasional, pemerintah perlu melakukan penyesuaian dalam frekuensi pemberian makanan. Ia mengusulkan agar frekuensi pemberian makanan yang awalnya enam kali seminggu bisa dikurangi menjadi tiga atau empat kali, tanpa mengurangi jangkauan geografis program.
Kepala SPPG di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Edwin Putra Kadege, menambahkan bahwa dapur MBG membantu menghidupkan rantai ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja, terutama bagi ibu rumah tangga. Saat ini, dapur yang dikelolanya melayani sekitar 2.000 penerima manfaat di 15 sekolah.
Ke depan, Riandy berharap dengan manajemen yang tepat, MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, diperlukan sektor-sektor lain untuk didorong selain pertanian. Penguatan pengawasan dan transparansi dalam pengelolaan dapur dinilai sangat penting untuk memastikan program ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.