custompaperswriting.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan yang signifikan pada Senin sore, ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terkait inflasi energi global akibat lonjakan harga minyak mentah, yang memicu sentimen negatif di pasar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Rarna Lim, menjelaskan bahwa tensi geopolitik, terutama situasi di Timur Tengah, turut mempengaruhi pasar. Penutupan Selat Hormuz berimbas pada pengurangan produksi minyak oleh produsen di wilayah tersebut, yang menghadapi masalah penyimpanan.
Harga minyak mentah global meloncat tajam, dengan harga minyak WTI mencapai 101,68 dolar AS per barel, dan minyak Brent melonjak hingga 104,53 dolar AS per barel. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Para menteri keuangan G7 dijadwalkan untuk membahas potensi pelepasan cadangan minyak darurat untuk mengatasi krisis ini.
Di sisi lain, inflasi di Tiongkok juga menunjukkan tren peningkatan, dengan catatan 1,3 persen pada Februari 2026, jauh di atas ekspektasi. Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) domestik ke level 125,2 juga mencerminkan melemahnya prospek ekonomi di Indonesia.
IHSG, yang dibuka melemah, terus bertahan di zona negatif selama sesi perdagangan. Sebelumnya, sebelas sektor mengalami penurunan, dengan sektor barang konsumen non-primer yang paling terdampak. Meskipun 68 saham mengalami kenaikan, sisanya lebih banyak yang turun, mencerminkan ketidakpastian pasar. Frekuensi perdagangan tercatat mencapai 2.474.203 transaksi, dengan nilai total transaksi mencapai Rp23,88 triliun.